Beranda | Artikel
Tinggalkan yang Tak Ada Manfaat
Jumat, 14 Oktober 2022

Di dalam hadis arba’in An-Nawiyyah hadis ke 12, ada hadis sangat indah berbunyi,

 مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تَركُهُ ما لا يَعْنِيهِ 

Diantara tanda indahnya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Mari kita renungi hikmah – hikmah di dalam hadis ini, melalui beberapa sisi berikut :

  1. Kedudukan hadis.
  2. Makna hadis
  3. Pelajaran kehidupan dari hadis.

Kedudukan Hadis

Hadis ini adalah salah satu dari empat hadis yang menjadi inti atau sumber akhlak yang mulia. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Sholah -rahimahullah-, beliau mengatakan, “Inti dari adab yang mulia ada pada empat hadits Nabi berikut :

Pertama, Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤمنُ باللهِ واليومِ الآخر فليَقُلْ خيراً أو ليَصْمُت 

Siapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تَركُهُ ما لا يَعْنِيهِ

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


 لا تَغْضَبْ

Sabda Nabi kepada seorang yang meminta wasiat kepada beliau, kemudian beliau memberi wasiat singkat, “Jangan marah” Beliau sampai mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhari)

Keempat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 المُؤْمِنُ يُحبُّ لأخيه ما يُحبُّ لنفسه 

Seorang mukmin itu menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

(Lihat : Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Bila kita sederhanakan, 4 sifat yang menjadi inti akhlak mulia yang disebut di hadis – hadis di atas adalah :

  • Orang yang ucapannya baik.
  • Orang yang pandai menghindar dari hal – hal yang tak bermanfaat.
  • Orang yang tidak mudah marah.
  • Orang yang penyayang kepada saudaranya.

Sehingga tidak heran jika para ulama menyebut pada hadis ini tampak mukjizat Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam-, yaitu jawami’ al kalim; atau kemampuan berbicara ringkas namun sangat dalam maknanya dan sangat padat hikmahnya. Sampai ada ulama yang menilai hadis ini adalah setengahnya Islam. Ada juga ulama yang bilang, “Islam itu ya, hadis ini.” Yang lain menyimpulkan, “Hadis ini seperempatnya agama Islam.”

Makna Hadis

Al-Husnu Adalah Keindahan

Pada hadis yang mulia ini ada kata, حسن (Husnun) yang maknanya adalah keindahan. Sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim -rahimahullah- (pengajar di masjid Nabawi dan Universitas Islam Madinah)

الحسن في الشيء زيادة في جماله وكماله وتحسينه.

Al-Husnu pada sesuatu, maknanya penambah keindahan, kesempurnaan dan kebaikannya.” (Dikutip dari : trasnkip ceramah beliau saat mengkaji hadis ini – audio.islamweb.net)

Bila kita perhatikan, kata Al-Husnu selalu di sebut di dalam hadis -hadis yang konteksnya menerangkan tentang penghias atau penyemburna iman atau Islam seseorang. Seperti dalam hadis – hadis berikut :

Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda,

البر حسن الخلق

Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.”

Akhlak baik di dalam agama ini, termasuk penghias agama.

Dan juga di dalam hadis Nabi tentang Ihsan (hadis Jibril). Saat Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- ditanya oleh malaikat Jibril, “Mohon dijelaskan apa itu Ihsan?”

Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam- menjawab,

أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Anda beribadah kepada Allah seakan Anda melihat Allah. Atau kalau Anda tidak melihatNya, Allah melihat Anda.”

Maka ibadah kepada Allah adalah asal, artinya ada pada setiap muslim. Namun ber-ihsan di dalam beribadah kepada Allah, yakni dengan menghadirkan rasa musyaahadah (merasa melihat Allah saat beribadah) atau rasa muroqobah (merasa selalu di awasi Allah) di dalam hati, itulah tambahannya, artinya itulah penghiasnya. 

Sebagaiamana diterangkan oleh Syaikh Sholih Al-’Ushoimi -hafidzohullah-,

ومتعلقه : إتقان الشيء وإيجاده

“Ihsan itu berkaitan dengan upaya seorang untuk menyempurnakan dan memperbagus Keislamanya.” (Dikutib dari : Syarah Tsalatsah Al-Ushul – Sholih Al-Ushoimi, hal, 59)

Tinggalkan….

Hadis :

مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تَركُهُ ما لا يَعْنِيهِ 

Diantara tanda indahnya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.”

Juga mengandung makna meninggalkan (Janib At-Tark). Artinya menahan diri dari perilaku yang tidak baik dan tidak bermanfaat. Oleh karenanya siapa yang mampu meninggalkan perilaku yang tidak baik dan tidak bermanfaat, dia telah melakukan ihsan kepada agamanya, artinya telah menghiasi agamanya. 

Empat Macam Perilaku Seorang

Dari hadis ini para ulama membagi perilaku manusia ada 4 macam:

  1. Perilaku yang bermanfaat bila dikerjakan
  2. Perilaku yang bermanfaat bila ditinggalkan.
  3. Perilaku yang tidak bermanfaat bila ditinggalkan.
  4. Perilaku yang tidak bermanfaat bila dikerjakan

Di saat seorang mampu melakukan perilaku yang bermanfaat dan meninggalkan perilaku yang tak bermanfaat, maka dia telah mengumpulkan dua kebaikan yang besar.

Namun jika Anda tinggalkan perilaku yang bermanfaat, ini adalah keteledoran. 

Jika Anda lakukan perilaku yang tidak bermanfaat, maka Anda berbuat sia-sia.

Orang yang sempurna akal dan agamanya adalah, yang melakukan perilaku yang bermanfaat dan meninggalkan perilaku yang tak bermanfaat.

Kemudian, biasanya seorang jika sudah sibuk dengan perilaku yang kurang bermanfaat, ia akan jauh dari perilaku – perilaku bermanfaat. Karena perilaku manusia itu hanya ada dua; tak ada yang ketiga, yaitu perilaku bermanfaat dan tidak bermanfaat. Ingatlah firman Allah yang berbunyi,

 فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُون 

“Tak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Lantas mengapalah kamu berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 32)

Level Perilaku Manusia

  1. Yang paling bermanfaat adalah : ibadah – ibadah yang wajib.
  1. Di bawahnya ada : Ibadah – ibadah yang sunnah.
  1. Berikutnya perilaku yang paling tidak bermanfaat : hal – hal yang haram dan maksiat.
  1. Di bawahnya yang lebih ringan ada : hal – hal yang dihukumi makruh.

Kasimpulan ini juga dikuatkan oleh sebuah hadis qudsi, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Allah ta’ala berfirman,

 مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih  Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan sunah, hingga sampailah Aku akan mencintainya.” (HR. Al Bukhari).

Pelajaran Kehidupan dari Hadis

Hadis ini kalau diamalkan, benar – benar akan menjadi kebahagian untuk siapa saja yang mengamalkannya, dan akan menjadi solusi dari banyak problematika kehidupan.

Sebagai contoh….

Betapa banyak waktu terbuang berselayar di gadget untuk hal yang tak bermanfaat. Scrol beranda, kepoin reel di ig atau fb. Sampai satu jam, dua jam, berjam – jam lewat tanpa ada manfaat yang didapat. Padahal waktu 1 2  3 jam itu kalau untuk baca quran sudah dapat berembar – lembar, atau seorang bisa hafal Al-Quran hanya dengan menyisakan waktu 1 – 3 jam saja dalam harinya.

Masalah rumah tangga, betapa banyak perceraian itu terjadi karena ada pihak ketiga yang kepo masalah dalam rumah. Saat ada suami istri bertengkar, datanglah orang katiga kepo menanyakan masalah. Atau datanglah Ibu atau Bapak mertua yang ikut campur ke dalam masalah anaknya dan pasangannya. Biasanya kalau sudah seperti ini, masalah akan semakin runyam, perceraian di ambang pintu. Nas-alullah as salaamah.

Semoga Allah menambah iman dan hidayah kepada kita semua.

Sekian….

 

 

 


 

@ Dusun Sawo, Bantul, 18 Rabiul Awal 1444 H

Penulis : Ahmad Anshori


Artikel asli: https://remajaislam.com/1975-tinggalkan-yang-tak-ada-manfaat.html